Ramadhan dan Ketaqwaan

    sumber gambar:http://ipimpusat.com

Momen Ramadhan adalah momen bagi kita semua untuk senantiasa meningkatkan rasa taqwa. Hal tersebut merupakan tujuan dari mengapa Allah mewajibkan puasa Ramadhan bagi setiap kaum muslimin. Sebagai mana ditegasakan oleh Allah dalam Al-Qur'an (2:183) : "Wahai orang-orang yang beriman! diwajibkan atas kalian semua untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan pula atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu sekalian bertaqwa".


Lalu pertanyaannya adalah adakah korelasi antara puasa dan ketaqwaan seseorang? Lalu kira-kira apakah yang dimaksud taqwa yang sesungguhnya?

Taqwa secara sederhana adalah dapat diartikan sebagai "menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh Allah".

Dalam rangka menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Allah dan juga menjalankan segala apa-apa yang diperintahkan-Nya, seseorang haruslah memiliki rasa takut. Takut tersebut yang dimaksud adalah takut kepada Allah SWT. Jika dianalogikan, seseorang tidak akan melanggar rambu-rambu lalu lintas jika ia punya rasa takut kepada Polisi. Begitu pula seorang bawahan misalnya, akan dengan tekun mengerjakan apa yang diperintahkan oleh bosnya jika ia memiliki rasa takut terhadap bosnya tersebut. Oleh sebab itu, maka sorang hamba akan mempunyai ketaqwaan yang baik jika ia memiliki rasa takut terhadap Allah SWT.

Pertanyaanya selanjutnya adalah bagaimana cara seseorang menanamkan rasa takut tersebut?

Pertama, yang paling mendasar memang adalah seseorang tersebut harus memiliki keimanan yang baik. Keimanan paling tidak adalah meyakini bahwa memang Allah itu ada, dan Allah maha mengetahui atas segala sesuatu. Karena tanpa keimanan, seseorang akan mustahil sampai pada derajat taqwa.

Kedua, untuk memiliki sikap taqwa, maka seseorang harus senantiasa merasa diawasi oleh Allah SWT. Dengan kata lain, seseorang harus menghadirkan Allah dalam dirinya. Jika dianalogikan lagi dengan seorang yang berada di perempatan yang dipasangi lampu lalu lintas, maka jika dalam keadaan sepi dan tidak terlihat sama sekali petugas lalu lintas, hampir dapat dipastika seseorang tersebut akan melanggar rambu-rambu tersebut. Hal tersebut disebabkan seseorang tersebut tidak nentiasa merasa diawasi oleh Polantas, sehingga ia berani melanggar rambu-rambu.

Oleh sebab itu, maka seseorang yang benar-benar bertaqwa, ia tidak akan melanggar batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Ia akan senantiasa merasa diawasi-Nya. Ia akan merasa Allah hadir di dalam kehidupannya, sehingga tiada celah sidikit pun baginya untuk bermaksiat.

Sekarang pertanyaan terakhir adalah apa hubungan puasa dengan taqwa?

Puasa merupakan ibadah yang tidak mungkin dilakukan oleh orang yang tidak bertaqwa. Taqwa yang diartikan sebagai takut dan merasa Allah SWT selalu mengawasi, amat lekat hubungannya dengan puasa. Bayangkan jika orang berpuasa tanpa ada rasa bahwa ia seantiasa diawasi oleh-Nya, maka ia akan mudah sekali membatalkan puasanya. Misalnya ketika seseorang sedang sendiri di rumah tak ada seorang pun selain dia, ia diam-diam akan makan dan minum sepuasnya. Sebab ia merasa tidak ada yang mengawasinya. Berbeda dengan seorang yang bertaqwa. Seorang yang bertaqwa akan senantiasa menjaga puasa, baik ketika ia sedang dalam keadaan bersama orang lain atau pun sendiri. Sebab rasa taqwanya, yang termanivestasi dalam perasaan selalu diawasi oleh Allah, tersebut ia tidak akan mudah untuk membatalkan puasanya. Ia takut untuk membatalkan puasanya, sebab ia tahu bahwa Allah SWT terus mengawasi setiap gerak-geriknya

Maka, jika rasa taqwa yang tercermin dalam ibadah puasa tersbeut diaplikasikan pula dalam kegiatan muamalah kita sehari-hari, itulah taqwa yang sesungguhnya. Menghadirkan Allah dalam setiap gerak-gerik dan kehidupan kita setiap saat, sehingga kita selalu merasa diawasi oleh Allah SWT, dan kita terhindar dari kemaksiatan. 

Selain itu, karena tujuan akhir puasa Ramadhan adalah supaya kita semua bertaqwa, maka hendaknya ketika Ramadhan nanti usai diganti dengan Syawal, taqwa kita juga harus meningkat. Ketawaan kita harus lebih baik dari ketaqwaan sebalum kita menapaki bulan Suci Ramadhan. Wallahu a'lam bish shawab.

Komentar